Senin, 24 Agustus 2026

Di Rumah Qur'an Asiyah, Usia Bukan Halangan untuk Belajar Al-Qur'an

Pernah nggak sobat RQA mendengar sebuah lirik lagu yang berbunyi, "Belajar sesudah dewasa, laksana mengukir di atas air"? Apakah benar ungkapan tersebut? Yuk coba kita bahas menurut kacamata Islam itu sendiri.

Kalo kita balik ke sejarahnya Rosulullah SAW dan para sahabat, bukankah tidak sedikit dari mereka yang mulai mengenal dan belajar islam di usia yang tak lagi muda? Rosulullah SAW saja menerima wahyu di usia 40 tahun, artinya sudah melebihi setengah dari usia beliau atau lebih tepatnya dua pertiga dari usia beliau.

Para sahabat Rosulullah SAW, usianya terpaut tidak terlalu jauh dari usia beliau SAW. Contohnya Abu Bakar Ash-Shiddiq yang menjadi sahabat terbaik sekaligus ayah mertua Nabi SAW, beda usianya hanya terpaut beberapa tahun saja dengan beliau SAW.

Hasilnya, Allah SWT di dalam Al-qur'an menggelari para sahabat rosulullah SAW sebagai "Khoiru ummah" atau umat terbaik, karena merekalah generasi pemimpin yang hafizh Al-Qur'an dan pembangun peradaban yang mulia.

Apakah mungkin umat terbaik itu menjalani proses belajar yang diibaratkan seperti mengukir di atas air? Apakah bisa mengukir di atas air? Bukankah mengukir di atas air itu seperti melakukan perbuatan yang sia-sia, sedangkan di dalam proses belajar tidak ada yang sia-sia?

Alhamdulillah di Rumah Qur'an Asiyah, pesertanya dari berbagai usia, mulai dari kepala tiga hingga kepala tujuh juga ada. Semua bersemangat menuntut ilmu dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an, masya Allah. Usia tidak menjadi penghalang, dan bahkan menjadi motivasi bagi yang muda untuk lebih semangat dalam belajar.

Bagi para pengajar, mengajar kalangan dewasa tentu memiliki dinamika tersendiri. Sisi baiknya, guru tidak perlu repot memotivasi karena mereka hadir dengan kesadaran sendiri. Kelas juga tidak sulit diatur karena mereka rata-rata para ibu yang sudah terbiasa mengatur anak-anak atau cucu-cucunya sendiri di rumah.

Satu hal yang mungkin menjadi tantangan bagi pengajar yaitu kecepatan dalam belajar, bisa jadi tidak secepat anak-anak atau generasi muda. Tapi ini adalah sunatullah, dimana ketika usia seseorang bertambah, maka akan ada dari nikmat-nikmat-Nya yang berkurang. Ini juga merupakan pengingat bagi kita  bahwa manusia tidak akan hidup selamanya, akan ada masanya kita kembali kepada-Nya.

Yang jelas, di sisi Allah tidak ada kebaikan yang sia-sia, sekecil apapun pasti ada balasannya. Saya berharap semoga usaha para ibu dan muslimah salihah dalam membersamai Al-Qur'an ini Allah catat sebagai amal mulia yang tidak kecil nilainya di sisi-Nya. Di saat mereka bisa memilih untuk rebahan di rumah sambil nonton TV atau scroll HP, tapi mereka justru memilih untuk berjuang membersamai kalam-Nya.

Jika ada taman di antara taman-taman surga di dunia, maka majelis Al-Qur'an adalah salah satunya Insya Allah. Semoga Allah jadikan hati-hati kita istiqomah membersamai kalam-Nya hingga saatnya nanti Allah takdirkan ruh berpisah dari raga.

Awal Mula Kehancuran, ketika Makhluk Melawan Fitrah

  Manusia dan semua makhluk Allah lainnya, diciptakan sesuai dengan fitrahnya. Tujuannya agar tercipta keseimbangan dan keharmonisan dalam k...